Perjalanan Fatih

Sore hari di kompleks perumahan ibukota. Remaja bernama Fatih sedang duduk dengan tatapan tajam. Di depan sebuah cermin ia menatap dirinya sendiri. Rambutnya klimis, pakaiannya rapih, dan tubuhnya segar bau aroma parfum Paris milik Ibunya. Sesekali ia tersenyum dan berkata, “Tampannya diriku.”

“Sudah rapih, Nak. Segera pergi,” ucap Ibunya.

“Iya, bu, sebentar lagi.”

Tapi ia ragu, ragu yang seharusnya tak perlu diragukan. Hanya karena kopiah hitam, waktu bagi dirinya untuk pergi terlambat beberapa menit.

“Dipakai apa enggak ya?” ungkapnya ragu. “Kalau dipakai percuma nih minyak rambutku, tapi kalau enggak dipakai, kok, terasa ada yang kurang.”

Dalam keraguan itu ia melirik jam dinding, terlihat pukul 16.30 WIB, waktu yang menurutnya sudah terlalu sore. Bergegas ia menyisir ulang rambutnya, lalu dipakainya kopiah hitam itu dan langsung pergi.

“Bu, Fatih berangkat yaa.”

***
Perjalanan yang lumayan jauh bagi seorang remaja seperti Fatih, ia harus berjalan sekitar 2 kilometer menuju tempat tujuannya. Sebuah tempat yang paling dimuliakan. Sepanjang jalan ia memperbanyak dzikir, mengingat Tuhannya. Ya, hal yang jarang memang. Namun tak heran, di bulan yang juga mulia ini suatu kebaikan tentu akan dilipat gandakan hitungan pahalanya.

Bukan hal yang mudah juga untuknya, walau hanya sekedar berjalan. Tak jarang godaan selalu meyapanya. Seperti di persimpangan jalan pertama, ia bertemu sekelompok orang yang sudah tak asing baginya, ya, teman-teman sekelasnya.

“Tih,” panggil Abdul.

Fatih menoleh,”Ohh, Abdul. Lagi ngapain, Dul, disana?”

Diangkatnya segelas minuman bersoda dari meja, “Sini gabung bareng, Tih. Segerrr.” 

“Gemblung , we, Dul. Gah lah, sayang sama puasaku ini.” Teman-temannya itu malah ketawa, “Hahahaha, yasudah, Tih. Kami juga enggak maksa.”

“Mending kalian ikut aku saja, yok?”

“Lah, biar itu jadi tugasmu saja, Tih.”

Mendengar itu Fatih hanya geleng-geleng kepala, melihat 5 teman sekelasnya dibangku SMA tanpa malu makan di depan umum, bahkan sambil santai menghisap tembakau. “Apa mereka ini lupa dengan kewajibannya?” tanyanya dalam diam.

***
Bulan yang penuh dengan berkah, penuh ampunan dengan segala keindahan. Bahkan untuk tidur menunggu waktu berbuka pun terhitung mendapat pahala kebaikan, inilah bulan Ramadhan. Perjalanan Fatih pun mungkin juga terhitung sebagai pahala kebaikan. Dari niat baiknya pergi dari rumah menuju tempat mulia hingga menjaga puasa dari berbagai cobaan. 2 kilometer, selain bertemu rombongan teman sekelasnya itu, ia juga sempat disapa lagi.  Dan sama, bukan orang yang asing baginya. Ada 3 temannya duduk di depan rumah besar dengan pagar yang tinggi, ya, rumah modern masa kini.

“Woii, Fatih, mampir,” teriak Akbar dari rumahnya.

“Ngapain, Bar?”

“Ada, Adi sama Bajol, ini. Ya, biasa, push rank, mabar  sambil nunggu buka puasa.”

Mendengar itu Fatih hanya mengangkat tangannya sambil melambai-lambai tanda menolak ajakan. Fatih tahu, teman-temannya itu adalah maniac teknologi, maniac game. Kalau mereka sudah berkumpul, kadang suka lupa waktu, bahkan bisa saja seharian menatap layar game, apalagi di hari-hari libur sekolah seperti ini.

“Tih, wifinya kencang ini. Nyantai dulu lah sini.”

“Haduuh, lupa bawa HP aku, Bro. Next time saja lah,” jawab Fatih yang sebenarnya hanya alasan. Tanpa ragu, Fatih pun melanjutkan perjalanan.

***
Lebih dari 15 menit fatih menempuh perjalanan, kini ia pun tiba. Di sebuah tempat yang paling dimuliakan, Fatih pun tersenyum. Seseorang menyenggol tangganya. “Ehh, dek Rafa. Yuk masuk. Sana bareng teman-teman yang lain.” 
Mendengar suara Fatih, seisi ruangan langsung keluar dan menyalaminya. “Kak, Fatih. Kak, Fatih. Kak Fatih.”

Seisi ruangan itu adalah murid-murid Fatih, murid-murid mengaji yang sedari tadi sudah tadarusan. Sore ini Fatih berlajan meninggalkan segala godaan dari teman-temannya demi hadir di masjid, berkumpul bersama muridnya untuk buka bersama. Sebuah perjalanan singkat yang membuatnya bertanya. Inikah Ramadhan zaman now? Anak-anak kecil lebih semangat daripada temanku-temanku yang besar.[]

____
By: Ahmad Mustaqim.
Cerpen Ramadhan ini juara 3 dalam event Ramadhan Ceria Karang Taruna Kota Metro (10/06/2018) dengan tema "Akhlak Remaja Zaman Now".

Download cerpen.


0 Response to "Perjalanan Fatih"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel